Di Kota Tangerang bisa disebut memang tidak ada usaha angkringan yang memadukan konsep itu. “Saya berharap, ruko yang saya gunakan buat usaha ini, bisa menjadi ruang bagi mahasiswa, pemuda atau siapa saja untuk diskusi,” katanya.
Di tempat angkringannya itu, Mukti menyediakan berbagai makanan diantaranya nasi, ayam, bakso panggang, tempe goreng dan ati ampela, sedangkan minumannya ada kopi, susu, dan teh panas.
“Saya juga punya minuman unggulan, yakni wedang bohay dan gorengan proletar. Banyak yang senang dengan wedang bohay, termasuk juga dengan gorengan proletar,” kata Mukti, bangga.
Dalam menjalankan usahanya itu tidak melulu mencari untung. Bagi yang tidak punya uang, ia tidak memaksa harus bayar. “Ya, anggap ini sebagai sedekah. Nanti juga ada balasannya dari Allah,” katanya.
Ditanya keuntungannya setiap hari, Mukti mengaku belum besar. “Ya, baru Rp 150 ribu saja. Mudah-mudahan kalau menunya sudah dilengkapi keuntungannya bisa bertambah,” katanya.





