Bertahun lalu Aku menggulirkan progran Sedekah Dongeng Keliling Nusantara. Dengan program itu aku mengembara dari kampung ke kampung, dari kota ke kota, dari sekolah ke sekolah, dari provinsi ke provinsi.
Kemudian aku mendongeng dengan caraku sendiri, bukan dengan cara kebanyakan pendongeng yang umumnya sudah seragam itu.Lantas, untuk apa aku mendongeng?
Sebetulnya, banyak yang tahu tentang dahsyatnya pengaruh dongeng pada pembentukan karakter manusia. Tapi tidak banyak pula yang mau berjuang dan berkorban agar dongeng tetap lestari, agar dongeng tetap hidup dalam peradaban manusia, agar dongeng tetap eksis dalam kebudayaan kita.
Anak-anak yang sering membaca buku dongeng atau mendengarkan dongeng hidupnya akan kaya dengan nilai-nilai sebagai hasil menyerap dimensi nilai-nilai itu dari berbagai bahan bacaannya, atau dari dongeng yang didengarnya.
Anak-anak yang kaya dengan nilai-nilai itu, kemudian akan tumbuh dan berkembang menjadi anak-anak yang tangguh mentalnya, kreatif dan baik jiwanya.
Jika sudah begitu, tentu saja mereka akan menjadi komunitas besar yang punya karakter nilai-nilai, sehingga akan mampu membangun bangsa ini menjadi bangsa besar, kuat dan hebat.
Sayangnya banyak orang tidak percaya akan hal itu. Sebab katanya tidak ilmiah. Sebetulnya bukan perkara ilmiah atau tidak. Lihat saja Bangsa Indonesia yang begini besar.
Faktanya malah bobrok dan repot dengan urusan korupsi serta hilangnya keteladanan dari para pemimpin di semua level kepemimpinannya. Dan koruptor itu adalah manusia-manusia gelap yang tidak kaya dengan nilai-nilai.
Penulis adalah:
Budi Sabarudin, seorang pendongeng keliling dan penulis buku Si Lidah Emas Dirampok Begal.





