Potret Idul Fitri di Tengah Pandemi

by -1500 Views
Potret Idul Fitri di Tengah Pandemi
Potret Idul Fitri di Tengah Pandemi

BANTENNOW.COM — Hari kemenangan sudah berlalu, namun tradisi Idul Fitri tahun ini terasa ada yang kurang. Efek dari pandemi Covid-19, semua gerak sosial dibatasi. Imbauan dan peraturan pemerintahpun bermunculan. Mulai dari Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sampai Social Distancing, masyarakat diminta untuk di rumah saja dan tidak keluar rumah guna membantu pemerintah untuk memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Tradisi yang setiap tahun ditunggu, bahkan ada sebagian yang hilang seperti tradisi mudik, pemerintah mengimbau masyarakat untuk tunda mudik guna mengurangi risiko penyebaran pandemi Covid-19.

Tidak hanya itu halalbihalalpun dilakukan secara virtual, di mana masyarakat juga mengikuti aturan pemerintah untuk tidak berkumpul atau dikenal dengan istilah Social Distancing. Bahkan berjabat tangan juga enggan untuk dilakukan, guna menekan potensi penyebaran pandemi Covid 19.

Biasanya di Indonesia perayaan hari kemenangan atau Idul Fitri melebur menjadi sebuah tradisi yang unik dan menarik. Perayaan Idul Fitri ditandai dengan menyiapkan berbagai makanan mulai dari kacang-kacangan, kue nastar, biji ketapang, bahkan sampai memasak makanan yang bisa dibilang menjadi ciri khas yaitu memasak ketupat.

Selain masak-masakan khas lebaran tradisi saling mengantar – biasanya mewarnai serba-serbi menyambut hari kemenangan. Biasanya warga atau tetangga saling mengantar sebuah bingkisan yang biasanya berisi sembako, sirup, bahkan ada yang memberi uang, atau istilahnya “mentahnya saja”.

Selain itu hari kemenangan atau Idul Fitri ditandai dengan orang-orang perantau yang mulai mudik ke kampung halaman untuk melepas rindu dan bersilaturahmi ke keluarga yang sudah lama ditinggalkan.

Sebelum tiba di hari kemenangan atau malam takbiran biasanya warga sekitar rumah menyambut dengan dengan penuh suka cita.

Mulai dari pawai obor, takbir keliling kampung menggunakan gerobak dengan peralatan seadanya — semua warga terlihat gembira menyambut hari kemenangan.

Pada saat hari lebaran dan setelah salat Idul Fitri, tradisipun dilanjutkan dengan salam-salaman atau halalbihalal. Warga yang sudah pulang lebih dulu dari masjid biasanya sudah berbaris untuk menyambut kedatangan warga yang baru pulang dari masjid untuk berjabat tangan saling memaafkan, setelah itu biasanya mengunjungi rumah orang-orang tua terdahulu atau tokoh masyarakat.

Ketupat Tak Lagi Nikmat

Ketupat lahir ketika agama Islam mulai masuk ke nusantara, diperkenalkan oleh Raden Mas Sahid atau Sunan Kalijaga. Ketupat memiliki berbagai komponen dan tidak banyak yang tahu bahwa dari setiap komponen tersebut memiliki arti.

Janur (kulit ketupat) melambangkan hati nurani. Kupat (Ngaku Lepat) berarti mengaku bersalah. Beras melambangkan kesucian hati setelah Idul Fitri; hati yang bersih.

Anyaman melambangkan keharusan masyarakat kita dalam mengikat tali silaturahmi. Dan yang terakhir bentuk ketupat (Kiblat Papat) melambangkan arah kiblat dan kemenangan umat Islam yang sempurna.

Namun semenjak ada pandemi ini ketupat terasa tak lagi nikmat. Biasanya ketupat disantap bersama keluarga besar yang berkumpul untuk halalbilal, namun tahun ini berkumpul dilarang guna menjaga kesehatan satu sama lain dari bahayanya penyebaran pandemi Covid-19.

Trend Baru Hampers

Tradisi warga saling mengantar sebelum lebaran yang berisi sembako, sirup, minyak dan sebagainya biasanya dinamakan parsel atau bingkisan. Namun sekarang ada yang berbeda penyebutannya. Untuk sekarang lebih dikenal dengan Hampers.

Hampers sendiri berasal dari bahasa Inggris “Hamper” yang berarti keranjang. Isi dari Hampers sendiri juga bukan hanya sekadar sembako seperti biasanya. Namun hampers bisa juga berisi sebuah seperangkat alat make up bahkan sampai ada yang isinya alat tulis.

Selain itu yang membuat hampers menarik adalah susunannya yang berbeda dari parsel biasanya. Ditambah ada kartu ucapan yang menambah keindahan dan maksud pengiriman hampers tersebut. Walaupun perbedaan penyebutan pada intinya tidak mengubah maksud dan tujuan dari pemberian parsel atau hampers tersebut.

Tunda Mudik

Tradisi mudik lebaran sangat ditunggu para perantau yang masih memiliki keluarga di kampung halaman. Namun momen tradisi mudik harus ditunda terlebih dahulu karena adanya pandemi Covid-19.

Pemerintah mengeluarkan imbauan masyarakat untuk tidak mudik saat momen Idul Fitri tahun ini guna memutus mata rantai penularan Covid-19.

Di tengah kebimbangan para perantau antara sedih, khawatir, dan rindu keluarga yang berada di kampung halaman, mereka juga harus taat terhadap aturan yang telah diimbau oleh pemerintah.

Demi menjaga kesehatan diri sendiri dan keluarga di kampung halaman, juga ikut serta membantu pemerintah untuk menekan dan memutus rantai penyebaran pandemi Covid-19.

Halalbihalal Virtual

Momen Idul Fitri tahun ini memang berbeda dari biasanya karena adanya pandemi Covid-19. Biasanya masyarakat belanja ke pasar dengan tenang untuk membeli keperluan yang dibutuhkan untuk lebaran, jadi was-was karena adanya pandemi ini. Ditambah lagi adanya aturan pemerintah yang melarang untuk berkumpul-kumpul atau Social Distancing maka dari itu ada beberapa toko ditutup sementara guna menghindari adanya perkumpulan.

Kemeriahan Idul Fitri juga tidak dirasakan di mana biasanya warga sekitar berkumpul untuk bersalaman saling memaafkan kini sudah tidak ada lagi. Sekalipun ada tidak sampai berjabat tangan apalagi sampai berpelukan, guna menaati peraturan pemerintah untuk berjaga jarak agar saling menjaga diri dan orang lain dari bahayanya Covid-19.

Di tahun ini banyak yang mengadakan halalbihalal virtual menggunakan fitur video call aplikasi media sosial WhatsApp, ada juga yang menggunakan aplikasi Zoom, media sosial Instagram, dan Facebook.

Berbagai cara dilakukan agar tetap bisa menjalin silaturahmi. Semoga pandemi ini segera berlalu dan kita semua bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Aamiin.

 

Oleh: Rizky Ade Imansyah
Lahir di Jakarta, 4 November 1997
Mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.