Kabupaten Tangerang Bersiap Hadapi Ancaman El Nino dengan Langkah Proaktif

by -89 Views
Asep Jatnika Sutrisno
Asep Jatnika Sutrisno, Kepala DPKP Kabupaten Tangerang. (credit; humas pemkab tangerang)

BANTENNOW.COM, TIGARAKSA — Pemerintah Kabupaten Tangerang mengambil langkah-langkah proaktif untuk menghadapi potensi dampak cuaca ekstrem El Nino. Dalam upaya melindungi sektor pertanian dan kehidupan petani, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang telah mengidentifikasi sembilan kecamatan yang mungkin terkena dampak fenomena ini.

Asep Jatnika Sutrisno, Kepala DPKP Kabupaten Tangerang, menyampaikan kecamatan-kecamatan seperti Sindang Jaya, Jambe, Kronjo, Kresek, Jayanti, Gunung Kaler, Mauk, dan Kemiri diprediksi akan mengalami tantangan kekeringan.

Untuk mengatasi situasi ini, DPKP telah mengambil langkah berani dengan mendistribusikan benih padi varietas tahan kering untuk 1.000 hektare area pertanian yang terdampak.

“Prediksi akan ada sembilan kecamatan yang mengalami kekeringan. Kami sudah berkoordinasi dengan Pemerintah Pusat, untuk bantuan benih yang tahan terhadap kekeringan atau pola tanam hemat air untuk 1.000 hektare dan kita sudah siap untuk menditribusikan ke setiap daerah yang terdampak El Nino,” ujarnya.

Tidak hanya itu, upaya penanganan kekurangan air juga menjadi prioritas utama. DPKP telah menyiapkan 8 unit mesin pompa air yang akan ditempatkan di daerah-daerah pertanian yang terdampak. Hal ini adalah langkah strategis untuk memastikan pasokan air yang cukup bagi tanaman, sehingga dampak kekeringan dapat diminimalisir.

“Kami sudah menyiapkan 8 unit mesin pompa air untuk menanggulangi kekurangan air di area terdampak. Monitoring dan intervensi juga terus kami lakukan pada area yang mengalami kekeringan, salah satunya dengan melakuan pemantauan sumber air di area tersebut,” tambahnya.

Di lain tempat, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut memberikan pandangan. Menurut mereka, wilayah Banten saat ini masih dalam status aman. Namun, puncak fenomena El Nino diperkirakan akan terjadi pada Agustus dan September mendatang. Oleh karena itu, pihak BRIN dan BMKG akan fokus pada upaya mengantisipasi dampak kekeringan.

“Kami akan menitikberatkan pada antisipasi kekeringan dampak fenomena El Nino dengan memonitoring lahan-lahan yang terjadi kekeringan dan melihat potensi sumber air yang ada disana. Kalau sumber air dari irigasi sekunder masih mencukupi dari sisi debit maka kita akan memberikan bantuan pompa,” tutupnya. (sdr)

No More Posts Available.

No more pages to load.