Apa yang dilakukan Eti akhirnya membuahkan hasil yang membanggakan, seperti sebuah doa yang diucapkan terus-menerus akhirnya dikabulkan Tuhan. Betapa tidak, dari perjuangannya itu sudah ada siswa yang benar-benar mampu menulis cerpen dengan baik, enak dibaca dan bahkan sudah dibukukan.
“Biarlah saya menjadi orang di belakang panggung saja,” begitu kata Eti sambil tersenyum. Kata-katanya itu mengandung makna kerendahhatian sesuai dengan kepribadinnya yang tak mau menonjolkan diri dengan keberhasilannya.
“Sampai saat ini, siswa sudah menghasilkan tiga buku kumpulan cerpen. Satu buku berisi 21 judul cerpen. Di semua buku itu saya diselipkan satu karya saya sebagai guru pembimbingnya. Saya sudah merasa sangat bahagia saat anak-anak melihat bangga karyanya ada dalam sebuah buku,” katanya.
Luar biasanya lagi dari apa yang dilakukan Eti, ternyata satu buku kumpulan cerpen itu melibatkan 63 siswa plus satu guru di tiap-tiap bukunya.





