“Untuk mengajak mereka hijrah, saya menggunakan metode dakwah Sunan Kalijaga yang memasukan unsur seni dan budaya,” sambungnya.
Disinggung bagaimana biayanya setiap hari, bukankah itu tidak sedikit? Ia hanya tersenyum. “Kalau soal makan, masak beras memang bisa delapan liter sehari. Tapi ada saja rezekinya,” kata Gus Dayat didamping istrinya, Dian dan beberapa anak punk.
Dian juga sering terjun ke jalanan, terutama untuk melihat dan mengawasi anak-anak jalanan yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri. Ketika masih gadis, Dian sebagai pengacara. Namun sejak kenal dengan Gus Dayat, ia melepas profesi pengacaranya dan memilih mengurus anak-anak jalanan.
Apa sebenarnya yang dicari Gus Dayat? Tentu saja dakwah jalanannya itu sebagai bentuk perjalanan spiritualnya yang masih panjang. Ia sadar betul, memberi dan membuka hijrah bagi anak-anak jalanan itu, tidak mudah. Namun itu akan terus dilakukan karena semata-mata tugas dari Allah untuk bekal di akherat kelak. (bud)





