Dalam amatan tersebut, ia melihat pintu terbuka yang dalamnya berisi tembok warna-warni. ‘Ruangan Anak’ tulis di dinding dekat pintu. Alan langsung masuk ruangan.
“Alaaan, itu sandalnya dilepas, ada tulisan di depan pintunya” bisik Kak Aman dari belakang.
“Hehee, ngggak keliatan Kak” balas Alan.
Alan asyik bermain, senyum sumringah terpancar dari wajahnya. Disekelilingnya, terdapat anak-anak lainnya. Tak banyak, hanya sekitar sepuluh orang. Alan memainkan bola kecil warna warni,sambil berlari mengijak rumput sintetis berwarna hijau tua.
Peserta belajar bersama di museum sibuk mendengarkan, suasana begitu teduh, angin semriwing begitu terasa menyentuh kulit. Alunan backsound piano itu masih merdu bak romantisme Annelis dan Minke.
Disudut barisan, pria tua hendak maju kedepan. Ia adalah penyuka layang-layang, kali ini bergantian dengan kak Aman. Ia memegang mic, sambil menceritakan sedikit soal layang-layang di Indonesia.
“Layang-layang ini unik, bahkan di beberapa daerah, ada layang-layang tak pernah diturunkan. Siapa yang suka main layang-layang?” tanyanya.






