“Saya ikut nenek usia delapan tahun. Itu waktu saya SD. Saya diajak nenek jualan keliling pemukiman dan perumahan. Nenek saya jualan lontong, pastel dan candil,” ungkap Nurul, yang dulu sekolah di SD Pabuaran, Desa/Kecamatan Cikande, Serang, Banten.
Ketika lulus SD, Nurul Aeni meneruskan ke SMP PGRI Cikande. Namun apa yang sudah diajarkan neneknya masih diteruskan Nurul. Di sekolahnya itu, ia juga berdagang. “Saya jualan nasi goreng, kue lapis, putri ayu, bolu, dan lain-lain,” ungkapnya.
Menurutnya, barang-barang jualannya itu dimasukkan ke dalam tas punggung, sedangkan buku-bukunya dipegang tangannya. “Ya, saya umpetin dagangannya supaya tidak ketahuan guru-guru. Barang-barang itu saya jual ketika jam istirahat,” katanya.
Demikian juga ketika Nurul sekolah di SMAN 1 Cikande. Di sekolahnya itu, ia jualan juga. “Saya bawa kripik kaca 50 bungkus. Itu saya jual ke teman-teman saya di Kelas 11, baik secara online maupun offline,” terang Nurul dengan nada suara yang lembut.






