Tahun lalu juga, Semanggi berkolaborasi dengan seniman, budayawan dan akademis dari Taiwan. Mereka melakukan riset tentang kebudayaan tepian Kali Cisadane relevansinya dengan kebudayaan Taiwan, kemudian melakukan performance art dari hasil riset itu.
“Yang kita bangun di Semanggi ini, bukan hanya berpikir tentang Tangerang saja atau tentang Banten saja, tapi kita berpikir bagaimana bisa menasional dan bahkan hingga dikenal internasional. Sebab kita ini sebenarnya warga dunia,” papar Miing.
Menurut Miing, center poin kegiatan Semanggi adalah kewirausahaan, kepemudaan dan kebudayaan. Semanggi misalnya melakukan pembinaan usahawan-usahawan muda yang memiliki produk untuk jual. Hidup memang butuh mesin uang, tapi tidak harus menyakiti orang lain dan merusak lingkungan,” ujarnya.
Produk-produk milik anak-akan muda itu kemudian dipoles di Semanggi agar memiliki cita rasa seni tinggi, pasarnya pun harus global.





