“Sekarang-sekarang ini yang menggunakan Bahasa Sunda Tangerang kebanyakan orang tua. Paling-paling nenek-nenek dan kakek-kakek. Anak-anak mudanya sudah jarang sekali. Akibatnya Bahasa Sunda Tangerang bisa disebut nyaris punah,” imbuhnya.
Berangkat dari realitas itulah, sejumlah warga Tangerang mendirikan Aing Tangerang. Mereka prihatin dan khawatir Bahasa Sunda Tangerang benar-benar hilang ditelan zaman karena sudah tidak ada penuturnya lagi, karena warga Tangerang sudah tak mau lagi menggunakan Bahasa Sunda Tangerang sebagai alat komunikasi sehari-hari.
“Kami sudah membentuk korwil-korwil Aing Tangerang di Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang dan Tangerang Selatan (Tangsel). Kalau pusatnya di Cikupa, Kabupaten Tangerang dengan Ketua Umum Muhamad Nur atau Kang Udel,” tuturunya.
Anggota Aing Tangerang lanjut Bucek, sering sekali melakukan pertemuan. Jika sudah bertemu, walau ini tidak diwajibkan, mereka menggunakan Bahasa Sunda Tangerang sebagai alat komunikasi.





