Ia bercerita begitu tenang. Legenda Tangkuban Parahu itu diceritakan sambil berdiri. Kadang sambil berjalan pelan diantara meja dan kursi para siswa. Namun kembali lagi bercerita di depan kelas. Kami hanyut dan hanyut dalam legenda itu.
Saat Pak Kustamin mendongeng itu, asli saya terbengong-bengong, Mas Bro. Suaranya amboi sangat memukau, diksi dan kalimat-kalimatnya sangat menarik dan sangat terpilih, wajahnya begitu ekpresif dan gerakannya juga penuh penjiwaan.
Edun! Saya terpukau dan dongeng Sangkuriang itu benar-benar masuk ke dalam imajinasi, perasaan dan pikiran saya. Sampai saat ini pun saya masih ingat peristiwa itu : seperti ukiran di sebuah batu. Padahal itu sudah berlalu puluhan tahun.
Bagi saya, seorang guru itu harus pandai mendongeng seperti Pak Kustamin itu. Sebab, mendongeng itu bisa membuat jiwa benar-benar terhibur, hati bahagia dan imajinasi siswa akan semakin kuat dan berkembang.





