DPKP Kabupaten Tangerang Latih Petani Milenial Terapkan Integrated Farming

oleh -42 Dilihat
DPKP Kabupaten Tangerang menggelar Pelatihan Integrated Farming (Pertanian Terpadu) bagi petani milenial di lahan Taruna Tani Al Prakarsa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Jumat (5/6/2026).

BANTENNOW.COM, KABUPATEN TANGERANG,- Upaya mencetak generasi baru petani modern terus diperkuat. Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang menggelar Pelatihan Integrated Farming (Pertanian Terpadu) bagi petani milenial di lahan Taruna Tani Al Prakarsa, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Jumat (5/6/2026).

Pelatihan tersebut menjadi langkah strategis Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam mendorong regenerasi sektor pertanian sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah melalui keterlibatan generasi muda yang adaptif terhadap teknologi dan inovasi pertanian modern.

Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian DPKP Kabupaten Tangerang, Endang Setiawan, mengatakan kegiatan yang dipusatkan di Desa Margasari itu bukan sekadar pelatihan rutin, melainkan proyek percontohan (pilot project) yang dipersiapkan untuk mendukung pengembangan agribisnis modern di Kabupaten Tangerang.

“Pelatihan di Taruna Tani Milenial Kecamatan Tigaraksa ini merupakan pilot project kami. Kami ingin membangun model pertanian modern yang berhasil terlebih dahulu di sini. Ke depan, konsep ini akan menjadi percontohan yang dapat direplikasi di kecamatan-kecamatan lain di Kabupaten Tangerang,” ujarnya.

Menurut Endang, konsep integrated farming sangat relevan diterapkan oleh petani milenial karena mampu menjawab tantangan keterbatasan lahan melalui sistem yang efisien. Dalam konsep tersebut, sektor pertanian, peternakan, dan perikanan saling terintegrasi dalam satu ekosistem yang menerapkan prinsip zero waste atau tanpa limbah.

Ia juga menyoroti tantangan sektor pertanian saat ini, yakni berkurangnya jumlah petani usia produktif di tengah meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk Kabupaten Tangerang.

“Kami optimistis melalui kreativitas dan inovasi petani milenial yang dibekali ilmu integrated farming, citra sektor pertanian akan semakin meningkat. Bertani itu keren, modern, dan memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan. Dari Tigaraksa, kami ingin membawa semangat baru ini ke seluruh wilayah Kabupaten Tangerang,” katanya.

Sementara itu, Ketua Taruna Tani Milenial Al Prakarsa, Satria Gusputra, membagikan kisah inspiratif di balik terbentuknya kelompok tani yang dipimpinnya. Berbekal pengalaman sebagai pekerja korporat, ia memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaannya dan mulai menekuni dunia pertanian.

“Awalnya banyak yang menganggap saya stres. Saat orang lain nyaman bekerja di kantor, saya justru memilih terjun ke kebun. Namun, saya melihat desa ini memiliki banyak lahan tidur yang potensial untuk dikembangkan, terlebih pemerintah sedang mendorong program swasembada pangan,” ungkapnya.

Selain melihat potensi lahan, Satria juga terdorong oleh kepeduliannya terhadap kondisi sosial generasi muda yang rentan terjerumus dalam praktik judi online maupun penyalahgunaan narkoba akibat dampak negatif penggunaan media sosial.

Ia kemudian berinisiatif mengajak para pemuda untuk kembali produktif melalui sektor pertanian. Pada tahun pertama, Satria memulai perjuangannya bersama dua pemuda setempat sambil berupaya mengubah pandangan mereka terhadap profesi petani.

Upaya tersebut mulai membuahkan hasil setelah dirinya berkonsultasi dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), Liswan, yang memberikan dukungan penuh terhadap pembentukan kelompok tani tersebut.

“Respons dari Pak Liswan sangat positif. Beliau langsung datang membantu membentuk kelompok kami hingga akhirnya resmi terdaftar dalam Sistem Informasi Manajemen Penyuluhan Pertanian (Simluhtan),” jelasnya.

Meskipun sebagian besar peralatan pertanian yang digunakan saat ini masih bersifat manual, Satria telah menyiapkan visi jangka panjang untuk menghadirkan sistem pertanian modern berbasis teknologi.

“Harapan kami ke depan, konsep pertanian modern yang sedang dirancang dapat berjalan sepenuhnya. Kami ingin menerapkan sistem pertanian berbasis digitalisasi dan otomatisasi, sehingga teknologi Internet of Things (IoT) dapat mengendalikan berbagai sistem di lahan pertanian kami,” tutup Satria.(sdr)

No More Posts Available.

No more pages to load.