BANTENNOW.COM, SERANG – Aktivitas fisik rutin dianjurkan bagi semua orang, termasuk atlet. Namun, bagi atlet yang mengidap asma, latihan intensif bisa menjadi tantangan tersendiri karena risiko gangguan pernapasan yang muncul saat atau setelah berolahraga.
Dokter spesialis paru di Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp.P, menegaskan pentingnya diagnosis asma sejak dini. Menurutnya, kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan secara umum, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap performa atlet di lapangan.
“Asma merupakan penyakit inflamasi kronis pada saluran pernapasan yang memengaruhi banyak orang di seluruh dunia. Meskipun asma tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, gejalanya dapat dikendalikan dengan pengobatan yang tepat,” ungkap dr. Rifian.
Berdasarkan penjelasan European Respiratory Society (ERS) dan European Academy of Allergy and Clinical Immunology (EAACI) yang bekerja sama dengan Global Allergy and Asthma Excellence Network (GA2LEN), asma yang diinduksi oleh olahraga atau exercise-induced asthma (EIA) merupakan gejala asma yang muncul setelah aktivitas fisik.
Kondisi ini dipicu latihan intens yang menyebabkan saluran napas mengering dan meningkatkan laju aliran udara.
Bacaan Lainnya:
Sementara itu, penurunan fungsi paru yang terjadi setelah olahraga standar dikenal sebagai exercise-induced bronchoconstriction (EIB), yakni penyempitan saluran napas akibat aktivitas fisik.
dr. Rifian menekankan pentingnya skrining bagi atlet muda yang ingin meningkatkan performa. Ia mengakui masih banyak atlet yang memilih merahasiakan kondisi asmanya, sehingga penanganan menjadi tidak optimal.
Karena itu, kolaborasi erat antara atlet, pelatih, dan dokter menjadi kunci dalam menentukan target terapi dan langkah pencegahan yang efektif. Dengan pengelolaan yang tepat, atlet pengidap asma tetap dapat berprestasi di level tertinggi. Sejumlah atlet dunia seperti David Beckham, Dennis Rodman, dan Paula Radcliffe menjadi contoh bahwa asma bukan penghalang untuk meraih prestasi.
Mengacu pada rekomendasi Global Initiative for Asthma (GINA), terapi Inhalasi Corticosteroid (ICS) dianjurkan bagi remaja dan dewasa muda sebagai pengontrol untuk mencegah kekambuhan. Konsultasi rutin dengan dokter paru juga diperlukan guna mendapatkan terapi yang sesuai sekaligus menyusun rencana aksi asma yang terukur.
Bacaan Lainnya:
“Mengelola asma dengan tepat adalah kunci bagi atlet untuk tetap berprestasi tanpa batasan. Di Bethsaida Hospital Serang, kami selalu berkomitmen untuk memberikan layanan terbaik dan penanganan yang holistik bagi para pasien, termasuk atlet yang ingin mengoptimalkan performa mereka,” ujar dr. Tirta Mulya, Direktur Bethsaida Hospital Serang.
Ia menambahkan, rumah sakit yang berada di bawah naungan Bethsaida Healthcare tersebut menyediakan layanan Klinik Paru komprehensif untuk menangani berbagai gangguan pernapasan, mulai dari asma hingga bronkitis dan penyakit paru lainnya.
Didukung fasilitas diagnostik modern seperti X-ray, bronkoskopi, CT Scan, dan spirometri, serta tim dokter spesialis paru berpengalaman, Bethsaida Hospital Serang memastikan layanan yang cepat, tepat, aman, dan terintegrasi demi pemulihan optimal pasien. (*)





