BANTENNOW.COM, SERANG — Campak masih menjadi salah satu penyakit infeksi yang perlu diwaspadai, khususnya pada anak-anak. Penyakit yang dikenal juga sebagai measles atau morbili ini memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat.
Virus campak menyebar melalui droplet atau percikan ludah saat penderita batuk maupun bersin. Bahkan, virus ini dapat bertahan di udara hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan. Kondisi ini membuat risiko penularan, terutama di ruang tertutup, menjadi sangat tinggi.
Gejala Awal hingga Ruam Khas
Secara klinis, campak memiliki tiga tahap perkembangan. Pada tahap awal atau fase prodromal yang berlangsung selama 2–4 hari, anak biasanya mengalami demam tinggi yang disertai gejala 3C, yaitu batuk (cough), pilek (coryza), dan mata merah (conjunctivitis).
Pada fase ini juga dapat muncul tanda khas berupa Koplik Spots, yakni bercak merah terang di bagian dalam pipi dengan noda keabu-abuan.
Memasuki fase eksantem, ruam kemerahan mulai muncul dari belakang telinga dan garis rambut, lalu menyebar ke wajah, leher, hingga seluruh tubuh. Pada fase ini, demam biasanya mencapai puncaknya hingga 40 derajat pada hari kedua atau ketiga setelah ruam muncul.
Selanjutnya, pada fase pemulihan atau konvalesens, ruam akan berangsur menghilang dalam 3–4 hari dan meninggalkan bekas kecoklatan sebelum akhirnya hilang sepenuhnya.
Bacaan Lainnya:
Berisiko Komplikasi Serius
Meski kerap dianggap sebagai penyakit umum pada anak, campak dapat memicu komplikasi serius seperti pneumonia, infeksi telinga, diare, hingga radang otak atau ensefalitis.
Penanganan campak umumnya bersifat suportif, meliputi pemberian obat penurun demam, istirahat cukup, asupan cairan, serta vitamin A untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
Vaksinasi Jadi Perlindungan Utama
Upaya pencegahan paling efektif adalah melalui imunisasi MR/MMR (Measles Rubella/Mumps Measles Rubella). Vaksin ini memiliki efektivitas hingga 93 persen untuk satu dosis dan meningkat menjadi 97 persen setelah dua dosis.
Vaksin MR direkomendasikan diberikan mulai usia 9 bulan, dilanjutkan pada usia 15–18 bulan dan 5–7 tahun.
Menurut dr. Nur Latifah Amilda, Sp.A, dokter spesialis anak di Bethsaida Hospital Serang, pemberian vaksin sebelum usia 9 bulan belum optimal karena bayi masih memiliki antibodi alami dari ibu.
“Jika vaksin diberikan terlalu dini, antibodi dari ibu bisa menetralisir vaksin sehingga kekebalan tidak terbentuk secara maksimal. Oleh karena itu, penting mengikuti jadwal imunisasi yang direkomendasikan,” jelasnya.
Bacaan Lainnya:
Perlindungan Bayi di Bawah 9 Bulan
Bagi bayi yang belum mencapai usia vaksinasi, perlindungan dapat dilakukan melalui pendekatan lingkungan atau cocoon strategy, yaitu memastikan orang-orang terdekat telah mendapatkan vaksin.
Menurutnya, bayi di bawah usia 9 bulan belum bisa mendapatkan perlindungan vaksin secara optimal, sehingga perlindungan terbaik adalah dari lingkungan sekitarnya.
“Dengan memastikan orang-orang terdekat sudah divaksin, kita membentuk perlindungan berlapis agar virus tidak sampai mengenai bayi,” tambah dr. Nur Latifah
Selain itu, orang tua disarankan membatasi kontak bayi dengan orang sakit, menghindari kerumunan terutama di ruang tertutup, serta menjaga kebersihan dengan rutin mencuci tangan dan mengganti pakaian setelah bepergian.
Bacaan Lainnya:
Layanan Terpadu untuk Kesehatan Anak
Bethsaida Hospital Serang menghadirkan layanan kesehatan anak yang komprehensif melalui Women & Children Center. Layanan ini mencakup konsultasi dokter spesialis anak, pemantauan tumbuh kembang, imunisasi lengkap, hingga penanganan penyakit infeksi pada anak.
“Kami tidak hanya berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada upaya pencegahan dan edukasi kesehatan kepada masyarakat,” ujar Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirtamulya Juandy.
Melalui layanan terintegrasi berbasis patient-centered care, Bethsaida mendampingi orang tua dalam setiap tahap tumbuh kembang anak, mulai dari deteksi dini hingga penanganan medis yang tepat.
“Dengan dukungan fasilitas modern dan tim multidisiplin, kami berharap dapat memberikan perlindungan yang optimal serta meningkatkan kualitas kesehatan anak secara menyeluruh,” tutup dr. Tirtamulya. (*)





