Abu Vulkanik Sudah Mereda, Kenapa Keluhan Pernapasan Masih Bisa Muncul?

oleh -40 Dilihat
oleh
Gangguan Pernapasan
Batuk yang tak kunjung hilang, sesak napas, dada terasa berat, mata perih hingga napas berbunyi bisa menjadi tanda tubuh terdampak paparan abu. Jangan sepelekan keluhan yang muncul, terutama bagi anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan PPOK.

BANTENNOW.COM, SERANG — Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda yang berlangsung sejak awal September 2026 kemungkinan sudah mereda. Tapi, bukan berarti masyarakat yang sempat terkena paparan abu vulkanik bisa langsung lengah.

Abu vulkanik yang sebelumnya terbawa angin memang sudah tidak lagi terlihat di sejumlah wilayah. Namun, efeknya terhadap kesehatan, terutama saluran pernapasan, masih perlu diperhatikan.

Selama erupsi berlangsung, abu vulkanik sempat menyebar ke sejumlah wilayah seperti Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu.

Berdasarkan laporan BMKG, erupsi yang dimulai pada 4 September 2026 menghasilkan kolom abu dengan ketinggian hingga 20.000 kaki ke arah timur dan 50.000 kaki ke arah barat.

Bagi warga Serang dan daerah sekitar yang sempat terpapar, kondisi tubuh sebaiknya tetap diperhatikan. Apalagi, abu vulkanik bukan sekadar debu biasa.

Dokter Spesialis Paru Bethsaida Hospital Serang, dr. Rifian Arnanda, Sp. P, mengatakan partikel abu vulkanik bisa berukuran sangat kecil dan masuk cukup jauh ke saluran pernapasan.

“Debu vulkanik berbeda dari debu biasa. Partikelnya bisa masuk sangat dalam ke paru-paru dan memicu peradangan serius, terutama pada mereka yang sudah memiliki kondisi pernapasan seperti asma atau PPOK,” jelas dr. Rifian Arnanda, Sp. P.

Lalu, seperti apa tanda-tanda yang perlu diperhatikan?

Beberapa keluhan yang perlu diperhatikan setelah terpapar abu vulkanik antara lain:

  1. Batuk kering yang terus-menerus, disertai rasa gatal atau iritasi di tenggorokan.
  2. Sesak napas atau dada terasa berat, terutama setelah beraktivitas.
  3. Hidung tersumbat atau mengeluarkan lendir secara berlebihan.
  4. Mata merah, perih, dan berair akibat iritasi.
  5. Mengi atau napas berbunyi, terutama pada penderita asma.

“Orang dewasa sehat pun tetap dapat mengalami gangguan apabila sebelumnya terpapar abu dalam jumlah cukup banyak,” sebutnya.

Abu Sudah Tidak Terlihat, Tetap Jangan Lengah

Meski kondisi erupsi sudah mereda, sisa abu yang masih menempel di rumah atau lingkungan sekitar tetap perlu dibersihkan dengan cara yang tepat.

Jangan langsung menyapu abu dalam kondisi kering. Cara tersebut justru bisa membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.

Membersihkan menggunakan metode basah bisa menjadi pilihan untuk mengurangi abu yang terangkat ke udara.

Kondisi udara di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Jika udara di luar sudah cukup baik, ventilasi bisa dibuka agar sirkulasi udara lebih lancar.

Penggunaan air purifier dengan filter HEPA juga dapat membantu mengurangi partikel halus di dalam ruangan.

Sementara bagi warga yang masih beraktivitas di area yang berdebu, penggunaan masker yang mampu menyaring partikel bisa membantu mengurangi paparan.

Masker respirator seperti N95 memiliki kemampuan filtrasi partikel yang lebih baik dibandingkan masker kain biasa.

Yang tidak kalah penting, perhatikan kondisi tubuh beberapa hari setelah terpapar abu.

Kalau batuk, sesak, dada terasa berat, atau mengi tidak kunjung membaik bahkan semakin berat, jangan dianggap sepele.

Kapan Harus ke Dokter?

Ada beberapa kondisi yang sebaiknya tidak ditunggu terlalu lama.

Segera cari bantuan medis jika sesak napas semakin berat, mengalami nyeri dada yang menetap, napas berbunyi sampai membuat sulit berbicara, atau bibir dan ujung jari terlihat membiru.

Demam tinggi yang disertai gangguan pernapasan juga perlu mendapatkan pemeriksaan.

Terlebih bagi mereka yang termasuk kelompok rentan atau memang sudah memiliki riwayat penyakit paru.

Bethsaida Hospital Serang Buka Layanan Paru

Bagi masyarakat yang sebelumnya terpapar abu vulkanik dan kemudian mengalami keluhan seperti batuk berkepanjangan, sesak napas, atau napas berbunyi, pemeriksaan kondisi paru bisa dilakukan melalui layanan kesehatan.

Bethsaida Hospital Serang menyediakan layanan konsultasi dan skrining kesehatan paru dengan dukungan fasilitas diagnostik dan tenaga medis.

Komitmen untuk membantu masyarakat Banten menghadapi dampak kualitas udara juga disampaikan Direktur Bethsaida Hospital Serang, dr. Tirta Mulya.

Bethsaida Hospital Serang berkomitmen untuk hadir bagi masyarakat Banten, terutama di saat kualitas udara menjadi ancaman nyata.

“Kami mengimbau seluruh masyarakat di wilayah yang sebelumnya terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau untuk tidak meremehkan keluhan pernapasan yang muncul. Fasilitas dan tenaga medis kami siap memberikan pelayanan terbaik,” pungkasnya.

Tentang Penulis: Redaksi

Gambar Gravatar
Banten Now merupakan portal online berita dan hiburan dibawah naungan PT INTAN PERMATA MEDIA yang berfokus pada pembaca Indonesia baik yang berada di tanah air maupun yang tinggal di luar negeri. Berita www.bantennow.com diupdate selama 24 jam. www.bantennow.com memiliki beragam konten dari info komunitas, berita umum, politik, peristiwa, internasional, bisnis, lifestyle, olahraga/sports, otomotif, teknologi, dan lainnya. Para pembaca kami adalah profesional, karyawan kantor, pengusaha, politisi, pelajar, mahasiswa dan ibu rumah tangga.

No More Posts Available.

No more pages to load.