Wisata Anyer-Carita Tetap Ramai, Pemprov Banten Perkuat Mitigasi Aktivitas Gunung Anak Krakatau

oleh -79 Dilihat
Meski Gunung Anak Krakatau berstatus Level III (Siaga), aktivitas wisata di Anyer dan Carita tetap berjalan normal. Pemprov Banten memastikan pemantauan dan mitigasi terus dilakukan bersama PVMBG, BMKG, TNI, Polri, serta pemerintah daerah.

BANTENNOW.COM, BANTEN – Aktivitas wisata di kawasan Pantai Anyer dan Carita tetap berlangsung normal meski Gunung Anak Krakatau (GAK) berstatus Level III (Siaga). Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten terus memantau perkembangan aktivitas gunung api sekaligus memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana berdasarkan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten, Lutfi Mujahidin, mengatakan pemerintah tidak hanya memantau aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau, tetapi juga mengantisipasi potensi dampaknya, terutama kemungkinan terjadinya tsunami.

“Mitigasi sudah kami lakukan sejak awal tahun, bahkan semakin diperkuat setelah status Gunung Anak Krakatau naik menjadi Level III (Siaga),” kata Lutfi, Kamis (9/7/2026).

Menurutnya, keputusan evakuasi masyarakat akan didasarkan pada hasil analisis dan informasi resmi mengenai potensi tsunami. Erupsi gunung api tidak serta-merta mengharuskan masyarakat mengungsi apabila tidak terdapat indikasi ancaman tsunami.

Lutfi menjelaskan, jika terjadi erupsi yang berpotensi memicu tsunami, masyarakat di wilayah pesisir diperkirakan memiliki waktu sekitar 40 menit untuk melakukan evakuasi. Karena itu, BPBD Provinsi Banten terus memperkuat koordinasi dengan PVMBG, BMKG, TNI, Polri, pemerintah kabupaten/kota, serta meningkatkan kapasitas Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) agar proses evakuasi dapat berlangsung cepat dan efektif apabila diperlukan.

Ia mengimbau masyarakat tidak panik menyikapi peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Berdasarkan hasil pemantauan BPBD, aktivitas wisata di kawasan Anyer-Cinangka hingga kini masih berjalan normal.

Sementara itu, Pengamat Gunung Api PVMBG Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau, Anggi Nuryo Saputro, mengatakan rekomendasi PVMBG belum berubah. Masyarakat, wisatawan, nelayan, maupun pendaki tetap dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.

“Kondisi kegempaan masih fluktuatif dan rekomendasinya tetap sama, yaitu tidak beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif. Seluruh informasi resmi dapat diakses melalui MAGMA Indonesia,” ujarnya.

Anggi menjelaskan, berdasarkan kajian para ahli, kondisi morfologi Gunung Anak Krakatau saat ini berbeda dengan kondisi menjelang tsunami Selat Sunda pada 2018. Saat itu, tinggi tubuh gunung mencapai sekitar 337 meter di atas permukaan laut (mdpl) sebelum terjadi longsoran, sedangkan hasil pengamatan terbaru menunjukkan ketinggiannya sekitar 158 mdpl.

“Potensinya berbeda dengan tahun 2018. Saat itu tinggi gunung sekitar 337 mdpl, sedangkan sekarang sekitar 158 mdpl sehingga kondisinya tidak sama. Namun, masyarakat tetap harus mematuhi rekomendasi PVMBG,” katanya.

Ia menambahkan, sepanjang pemantauan PVMBG, Gunung Anak Krakatau belum pernah ditetapkan pada Status Level IV (Awas). Bahkan saat longsoran tubuh gunung yang memicu tsunami Selat Sunda pada Desember 2018, status aktivitasnya tetap berada pada Level III (Siaga). Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak menafsirkan tingkat aktivitas gunung berdasarkan peristiwa masa lalu, melainkan selalu mengacu pada rekomendasi resmi PVMBG dan informasi pemerintah.

Di sisi lain, aktivitas pariwisata di kawasan Anyer dan Carita tetap berjalan seperti biasa. Di Pantai Bandulu, Abdul Malik (42), wisatawan asal Bekasi yang datang bersama sekitar 30 orang dari Universitas Pancasila, mengaku tetap berwisata karena perjalanan telah direncanakan sejak sebulan lalu.

“Perjalanannya menyenangkan dan suasana pantainya juga bagus. Saya lihat kondisinya masih aman, belum ada masalah apa-apa,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Marlian (39), warga Tajur Halang, Parung, Bogor, yang datang bersama 28 anggota komunitas senam. Meski mengetahui status Gunung Anak Krakatau meningkat, rombongannya tetap melaksanakan agenda wisata.

“Kami tetap berangkat karena informasinya aman. Tadi bahkan sempat naik perahu ke tengah laut dan semuanya berjalan lancar,” katanya.

Di Pantai Pandan, Carita, Jonelisa (18), pelajar asal Nabire, Papua Tengah, yang saat ini menempuh pendidikan di Tangerang, juga tetap menikmati liburan bersama dua kerabatnya.

“Saya mengetahui informasi aktivitas Gunung Anak Krakatau dari media sosial. Namun setelah melihat masih banyak wisatawan yang berlibur ke Carita, kami memutuskan tetap datang untuk menikmati liburan,” tuturnya.

Ramainya kunjungan wisatawan juga dirasakan pelaku usaha di kawasan Pantai Bandulu. Petugas penjualan tiket dan penyewaan saung, Maria Ulfah, mengatakan hingga siang hari tercatat sekitar 10 bus rombongan dan 15 kendaraan pribadi memasuki kawasan wisata. Pada akhir pekan, jumlah kunjungan dapat mencapai 30 hingga 50 bus serta puluhan kendaraan pribadi.

“Pengunjung tetap ramai. Penyewaan saung juga berjalan normal dan hingga saat ini peningkatan status Gunung Anak Krakatau belum berdampak terhadap jumlah kunjungan wisatawan,” ujarnya. (way/sdr)

No More Posts Available.

No more pages to load.