“Mereka misalnya diberi bimbingan literasi, berupa bimbingan tahsin bagi anak yang mau meneruskan ke pesantren,” ungkapnya.
Diakuinya memang tidak mudah membina mereka, namun atas izin Allah SWT, sampai saat ini pembinaan terhadap anak-anak yatim itu masih tetap berjalan. “Kami ingin mengubah paradigma masyarakat anak-anak yatim piatu itu nakal dan susah diatur. Makanya, mereka selalu mengadakan mentoring, termasukk mendengarkan keluh-kesah mereka,” ujarnya.
Baca Juga: 110 Penulis Satupena, Menulis Buku ‘Kemanusiaan pada Masa Corona
Pada intinya sambung Ahmad, dalam setiap pertemuan dengan anak yatim itu, para relawan TBM Umah Ilmu memposisikan diri sebagai saudara, kakak, ayah dan ibu. “Banyak sekali yang dikeluhkan oleh mereka-mereka itu,” paparnya.
Dalam pertemuan tersebut, menurut dia, selalu ditanamkan kepada mereka sebetulnya tidak ada anak bodoh di dunia, kecuali yang malas belajar dan membaca. “Itu agar mereka termotivasi untuk terus belajar menjadi anak anak yatim-piatu yang mulia dan penuh dengan karya dalam hidupnya,” ucapnya.





