“Mereka tetap bersyukur terhadap cobaan ini dan taat terhadap ketentuan ulil amri untuk di rumah saja,” tambahnya.
Lanjut Wildan, ada seorang ustadz yang menelepon ustadz lainnya meminjam beras karena persediaan di rumah habis, dan ada juga ustadz yang meminjam Rp 14 ribu hanya untuk membeli lauk untuk makan keluarga di rumah.
“Ada ustadz yang menjual dan menggadaikan barang-barang secara diam-diam. Itu untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari hari keluarganya. Masya Allah, mereka tidak meminta, tapi memilih jalan berhutang, jual dan gadai,” ungkapnya.
Wildan berpendapat, semua pihak semestinya lebih berempati kepada ustadz-ustadzah kelas “medioker” yang istiqomah berdakwah dari satu kampung ke kampung lainnya, dari masjid ke masjidnya, dan dari majelis taklim ke majelis taklim lainnya.
“Kepada sahabat-sahabat muslim, apabila punya niat untuk bersedekah membantu sesama, letakkan ustadz ustadzah pada list paling atas,” ujarnya.






