BANTENNOW.COM, TANGERANG – Katarak masih menjadi salah satu penyebab utama gangguan penglihatan hingga kebutaan di dunia. Kondisi ini terjadi ketika lensa mata yang semula jernih berubah menjadi keruh sehingga cahaya tidak dapat masuk secara optimal ke retina dan menyebabkan penglihatan menjadi kabur.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa katarak merupakan penyebab utama kebutaan yang masih dapat diobati secara global. Sebagian besar kasus terjadi pada kelompok usia lanjut, namun faktor lain seperti diabetes, cedera mata, paparan sinar ultraviolet (UV), hingga penggunaan obat kortikosteroid dalam jangka panjang juga dapat meningkatkan risikonya.
Dokter Spesialis Mata RS Sari Asih Bintaro, Kota Tangerang Selatan, dr. Kelvin Mandela, SpM, mengatakan gejala katarak berkembang secara bertahap sehingga kerap tidak disadari pada tahap awal.
“Keluhan yang paling sering dirasakan pasien adalah penglihatan yang semakin buram. Selain itu, mata menjadi lebih sensitif terhadap cahaya, warna terlihat memudar, hingga muncul pandangan ganda pada satu mata,” ujar dr. Kelvin Mandela.
Ia menjelaskan, pada kondisi yang sudah lanjut, katarak dapat menyebabkan bagian pupil tampak berwarna putih akibat lensa mata yang telah mengalami kekeruhan cukup berat.
Gejala Katarak yang Perlu Diwaspadai
Beberapa tanda yang umum dialami penderita katarak antara lain:
• Penglihatan buram atau berkabut.
• Mata lebih sensitif terhadap cahaya atau silau.
• Penglihatan ganda pada satu mata.
• Warna terlihat lebih kusam atau menguning.
• Kesulitan melihat pada malam hari.
Menurut dr. Kelvin, siapa pun yang mulai mengalami penurunan kualitas penglihatan, terutama pada usia lanjut, sebaiknya segera menjalani pemeriksaan mata agar penyebabnya dapat diketahui sejak dini.
Faktor Risiko Katarak
Selain proses penuaan, terdapat sejumlah faktor yang dapat mempercepat terbentuknya katarak, yaitu:
• Bertambahnya usia.
• Paparan sinar ultraviolet (UV) dalam jangka panjang.
• Cedera atau trauma pada mata.
• Riwayat keluarga dengan katarak.
• Diabetes melitus.
• Penggunaan obat kortikosteroid dalam waktu lama.
Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan mata melalui pengendalian penyakit kronis seperti diabetes, menggunakan pelindung mata saat beraktivitas di bawah sinar matahari, serta melakukan pemeriksaan mata secara berkala terutama setelah memasuki usia lanjut.
Operasi Menjadi Terapi Utama Katarak
Hingga saat ini, operasi merupakan satu-satunya terapi yang terbukti dapat mengatasi katarak. Prosedur dilakukan dengan mengangkat lensa mata yang telah keruh kemudian menggantinya menggunakan lensa intraokular (Intraocular Lens/IOL).
“Operasi katarak merupakan salah satu tindakan bedah mata yang paling sering dilakukan dan memiliki tingkat keberhasilan yang sangat tinggi apabila dilakukan sesuai indikasi oleh dokter spesialis mata,” kata dr. Kelvin.
Fakoemulsifikasi, Teknik Operasi Katarak Modern
Di RS Sari Asih Bintaro, tindakan operasi katarak dilakukan menggunakan metode fakoemulsifikasi, yaitu teknik operasi modern dengan sayatan sangat kecil sehingga umumnya tidak memerlukan jahitan.
Menurut dr. Kelvin, metode ini memiliki sejumlah keunggulan, antara lain:
• Waktu tindakan relatif singkat.
• Sayatan kecil tanpa jahitan.
• Tidak memerlukan rawat inap (one day care).
• Menggunakan anestesi lokal sehingga pasien tetap nyaman selama prosedur.
• Masa pemulihan lebih cepat dengan risiko komplikasi yang rendah apabila mengikuti anjuran dokter.
“Metode fakoemulsifikasi memungkinkan pasien menjalani operasi dengan lebih nyaman dan proses pemulihan umumnya berlangsung lebih cepat dibandingkan teknik konvensional,” jelasnya.
Dokter Kelvin mengingatkan masyarakat agar tidak menunda pemeriksaan apabila mulai mengalami penglihatan buram yang mengganggu aktivitas sehari-hari. Penanganan sejak dini dapat membantu menentukan waktu operasi yang tepat dan meningkatkan peluang pemulihan penglihatan secara optimal.





