Hasil Swab Negatif, Keluarga PDP Meninggal Nilai RSUD Balaraja Tidak Profesional

by -242 views

Keluarga pasien berinisial AM, yang ditetapkan sebagai pasien dalam pengawasan (PDP) Covid-19 dan meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Balaraja, pada Senin (1/6/20) lalu, menilai pihak rumah sakit tidak profesional. Pasalnya, dari hasil swab AM dinyatakan negatif Covid-19.

Keluargapun, berencana akan melakukan upaya hukum terhadap RSUD Balaraja, Kabupaten Tangerang. Selain itu, RSUD Balaraja juga tidak profesional dalam menetapkan status terhadap pasien ditengah Pendemi Virus Corona. Sehingga menimbulkan dampak sosial bagi keluarga.

“Saya awalnya ngga mau jika almarhum dimakamkan secara protokol Covid-19. Karena saya tahu betul jika istri saya hanya sakit pembengkakan jantung,” terang suami almarhum Endang Suhendar, kepada awak media, Senin (8/6/20).

Sehari setelah meninggal dunia pada pukul 15.30, Senin (1/6/20) lalu di RSUD Balaraja, setelah ditetapkan menjadi pasien PDP oleh dokter, ungkap Endang, almarhum kemudian dimakamkan di TPU Buniayu – Kecamatan Sukamulya, secara protokol Covid 19.

Pasca dimakamkan di TPU Buniayu, lanjut Endang, tidak seperti biasanya, pelayat dirumahnya pun menjadi sepi dan hanya dihadiri oleh sebagian keluarga besarnya, meskipun almarhum belum divonis positif Covid-19.

Tak hanya itu, ketiga anaknya yang masih di bawah umurpun mengalami ganggun psikologis. Karena saat almarhum mengembuskan napas terakhirnya, anak nomor duanya Zahra (12) yang juga diisolasi, terkejut karena orang tuanya meninggal dunia tanpa diketahui oleh perawat dan dokter jaga.

“Saya baru lega, saat RSUD Balaraja memberikan hasil Swab, bahwa almarhum hasilnya negatif Corona. Hasil tersebut kemudian diumumkan ke tetangga dan malam tahlil ke lima hari. Dan akhirnya tetangganya mulai mau datang tahlil ke rumah,” bebernya.

Didampingi Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Gerakan Reformasi Masyarakat (Geram) Banten, pihak keluarga akan menuntut pihak rumah sakit dan meminta untuk memindahkan makam almarhum istrinya.

“Kami minta pihak rumah sakit bertanggung jawab atas beban pisikologis keluarga kami yang dikucilkan oleh masyarakat. Dan untuk membuktikan bahwa istri saya tidak terkena virus Corona, saya minta pihak rumah sakit memindahkan pemakaman istri saya,” pintanya.

Dimintai komentar, Ketua LSM Geram Banten, H.Alamsyah menyayangkan sikap rumah sakit yang terburu-buru dalam menetapkan status pasien menjadi PDP, tanpa melihat riwayat penyakit pasien.

Menurutnya, pasien selama sakit 1.5 tahun, sudah menjalani perawatan di tiga rumah sakit, dan hasil diagnosisnya adalah pembengkakan jantung.

“Kami dan keluarga tentu sangat terpukul, dan menyangkan sikap rumah sakit yang selalu mengkaitkan penyakit dengan Covid-19. Padahal pasien ini punya riwayat penyakit jantung, dan terbukti dari hasil swab yang menyatakan bahwa pasien negatif Covid-19,” jelasnya.

Sebagai Lembaga Masyarakat, lanjut Alamsyah, pihaknya akan meminta penjelasan dari pihak rumah sakit. Dan apabila ditemukan ada unsur pidananya maka akan melakukan langkah hukum ke pihak berwajib.

“Kita lihat hasil audensi dengan pihak rumah sakit nanti. Kalau jelas ada unsur kelalain yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang, kita akan laporkan kepihak berwajib,” tegasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.