Ade melanjutkan, sisi yang ditampilkan dalam buku kumpulan cerpen Dilatasi Waktu ini memang lekat dengan kehidupan pelajar atau mahasiswa pada umumnya.
“Membacanya membuat kita berfikir bahwa ini nyata dalam kehidupan kita. Namun, selalu ada sisi-sisi idiologis yang ditampilkan, sehingga ini bukan hanya sebatas cerita kacangan, ini cerita penuh makna dan misteri,” lanjutnya.
BacaJuga: Dongkrak Mutu, LPMP Banten Bina 180 Sekolah Untuk Mencapai 8 SNP
Sementara itu, penulis buku Dilatasi Waktu sekaligus Ketua Korwil PII Wati Banten Deby Rosselinni mengungkapkan, dengan launching bukunya yang kedelapan ini, dirinya berharap, bisa menjadi motivasi bagi para pelajar untuk terus berdaya dan berkarya membangun peradaban bangsa.
“Kita, para perempuan, rahimnya peradaban, harus dengan betul dan serius meningkatkan kapasitas kita. Kita adalah ibu dari bangsa ini ke depan, kita harus ajarkan calon anak-anak kita untuk berdaya dan berkarya, bahkan sebelum mereka dilahirkan di dunia,” ucapnya. (dsa)





