Cerpen: “Kupat Tahu Sang Kakek dan Perempuan Berdaster Merah”

by -60 views
Budi Euy

Suatu pagi yang cerah, saya makan kupat tahu di ruang tamu sambil membaca buku dongeng. Istri saya sedang pergi ke pasar naik motor.

Bagi saya, kupat tahu adalah makanan legendaris. Sejak kecil saya sering sekali jajan kupat tahu di pasar desa.

Di masa kecil, makan kupat tahu sambil jongkok menghadap jongko kupat tahu diantara orang lalu lalang, alangkah asyiknya, alangkah nikmatnya.

Kupat tahu menjadi makanan yang paling saya suka hingga usia saya setengah abad ini.

Begitu pula membaca buku dongeng dan mendongeng, aih saya senang sekali.

Nah, ketika sedang lahap-lahapnya makan kupat tahu, tiba-tiba seorang perempuan berdiri di ambang pintu rumah saya, yang terbuka. Ia mengenakan daster warna merah dengan motif bunga-bunga.

Wajah perempuan itu mirip artis drama korea. Rambutnya pirang. Hidungnya mancung. Kulitnya putih sekali. Tubuhnya semampai.

O, Mata perempuan itu menatap mata saya, bibirnya yang merah membara tersenyum. Matahari saat itu menyorot ke rumah saya. Maka tampaklah bayang-bayang tubuh perempuan berdaster merah itu.

Saya kaget sekali, gugup dan terbengong-bengong. Kemudian saya menundukkan kepala sambil memgucapkan astagfirullah dalam hati.

Walau saya sudah uzur, melihat perempuan macam begitu, ampuuunnn dada saya tetap saja serasa kena petir. saya juga tak bisa bicara apa-apa. Sebab mulut saya penuh dengan kupat tahu.

Dengan langkah kaki yang cepat dan tanpa bicara apa-apa, perempuan itu masuk ke dalam rumah. Saya tak bisa mencegah karena sulit melangkah, karena saya belum pulih dari sakit stroke dan baru satu bulan belajar jalan dengan tongkat. “Tak ada sopan-sopannnya perempuan zaman sekarang, kurang ajar masuk ke rumah orang lain tanpa permisi.” Saya menggerutu.

Saya kembali melanjutkan makan kupat tahu karena selain sedang nikmat-nikmatnya, sayang juga kalau kupat tahu tidak dihabiskan. Apalagi kupat tahu masih banyak dipiring dan paling enak di Kota Bandung.

Tapi lama-lama, sosok perempuan berdaster merah itu kepikiran juga. Ada perasaan khawatir dalam diri saya, mau apa dia masuk ke rumah saya, bagaimana kalau istri saya pulang dari pasar dan dia tahu ada perempuan itu di dalam rumah, ah celaka, gawat. Pasti dia ngamuk dan bisa saja menuduh saya yang bukan-bukan. Saya tak bisa membayangkan kalao istri saya ngamuk. Soalnya ia mantan atlet pencak silat.

Saya cemas sekali.

Bagaimana kalau perempuan itu tenyata perampok, pencuri atau punya niat yang tidak baik, mungkinkah ia punya ilmu kanuragan lalu berniat membunuh saya sebagai tumbal misalnya.

Saya bangkit dari kursi. Tapi sebelum melangkah saya makan kupat tahu terlebih dulu dua sendok. Dengan langkah kaki tertatih-tatih menggunakan tongkat, saya cari ke mana perempuan itu. Tapi saya kehilangan jejak. ” Cepat sekali perempuan itu menghilang, padahal di rumah saya tidak ada pintu belakang atau pintu samping untuk keluar. brengsek, bajingan itu sembunyi di mana? ” saya mengumpat.

Tidak juga menemukan perempuan itu, perasaaan saya mulai jengkel. Tapi saya mencoba bersabar. saya cari lagi perempuan itu ke setiap kamar tidur, ternyata tidak ada juga. Saya cari ke kolong ranjang, kosong. Saya cari ke gudang dan Ke dapur, tidak ada. Huh perempuan itu bikin repot saja. Jangan-jangan perempuan itu siluman atau hantu? Bulu kuduk saya mendadak meriap-riap. Rumah terasa sunyi dan menyeramkan. Ada perasaan takut dalam diri saya.

Karena capek mencari-cari perempuan itu dan otot kaki terasa pegal dan tegang sekali, akhirnya saya kembali ke ruang tamu. Duduk di kursi sambil tarik nafas beberapa kali. Saya mengurut-urut kaki kiri dengan tangan kanan. Kemudian meneruskan makan kupat tahu lagi. tapi baru saja dua suap makan kupat tahu, sayup-sayup terdengar seperti seseorang sedang bersenandung. Suara itu bersatupadu demgan suara air yang dibanjur-banjurkan dari gayung. ” jangan-jangan perempuan itu mandi? Ah kalau itu benar, pasti perempuan itu perempuan gila. Jangan-jangan perempuan itu memang gila. Bisa saja ia kabur dari rumah sakit jiwa,” kata saya.

Segera saya makan lagi kupat tahu. Lalu saya bangkit dari kursi. Dengan langkah kaki yang susah payah, saya melangkah menuju kamar mandi. Saya ingin meyakinkan apakah betul yang mandi itu perempuan berdaster merah. Namun baru saja berjalan empat langkah, tiba-tiba saja saya mendengar teriakan -teriakan orang banyak. Gemuruh suara itu semakin lama semakin jelas dan semakin dekat menuju rumah saya. Dengah langkah tertatih-tatih saya menuju ruang depan atau ruang tamu. Namu begitu saya sampai pintu rumah, segerombolan ibu-bu langsung menerobos dan masuk ke ruang tamu, higga saya terjengkang dan nyaris jatuh. Wajah ibu-ibuitu penuh dengan amarah, kebencian dan dendam.

Salah seorang ibu yang paling galak membentak saya, “hey kakek peot, kau sembunyikan di mana perempuan berdaster merah itu?”

“Saya tidak tahu,” jawab saya gugup.

Tidak puas dengam jawaban saya, gereombolan perempuan itu menggeledah rumah saya. Mereka sibuk mencari-cari ke setiap ruangan. “Kalau ketemu, ringkus dia dan serahkan ke rumah sakit jiwa,” kata mereka berteriak. Mereka kemudian berlari ke kamar utama kami.
Namu setelah dicari- ke sana, perempuan itu tidak ada, gerombolan ibu-ibu itu pergi keluar rumah dengan perasaan kesal. Mereka terus saja berteriak-teriak. “hey perempuan berdaster merah jangan lari, jangan sembunyi. Kalau ketangkap mampus kau.” Begitu kata mereka sambil terus brrjalan meninggalkan rumah saya.

Ketuka gerombolan ibu-ibu itu sudah menjauh, Saya menutup pintu rumah dan menguncinya. Kemudian saya cari kembali perempuan itu ke mandi.

Betapa kagetnya saya, ternyata daster wsrna merah yang dipakai perempuan itu tergantung di kastop kamar mandi.

Saya kaget. Dengkul saya bergetar hebat. Tubuh saya ambruk.
Tak lama kemudian, saya ingat kupat tahu belum saya habiskan. (*)

Parakansaat Bandung 2021.

Penulis: Budi Sabarudin (Budi Euy)
– Wartawan Senior Banten
– Pendongeng Keliling Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.