Cerita Pendek: Kupat Tahu Sang Kakek dan Perempuan Berdaster Merah (2/ tamat)

by -45 Views
Budi Sabarudin adalah seorang penyintas stroke

BANTENNOW.COM — Tidak puas dengam jawaban saya, gereombolan perempuan itu menggeledah rumah saya. Mereka sibuk mencari-cari ke setiap ruangan. “Kalau ketemu, ringkus dia dan serahkan ke rumah sakit jiwa,” kata mereka berteriak. Mereka kemudian berlari ke kamar utama kami.

Namu setelah dicari- ke sana, perempuan itu tidak ada, gerombolan ibu-ibu itu pergi keluar rumah dengan perasaan kesal. Mereka terus saja berteriak-teriak.

“Hey perempuan berdaster merah jangan lari, jangan sembunyi. Kalau ketangkap mampus kau.” Begitu kata mereka sambil terus brrjalan meninggalkan rumah saya.

Ketika gerombolan ibu-ibu itu sudah menjauh, saya segera menutup pintu rumah dan menguncinya. Kemudian saya cari kembali perempuan itu ke kamar mandi.

Betapa kagetnya saya, ternyata daster wsrna merah yang dipakai perempuan itu tergantung di kastop kamar mandi.

Saya kaget. Dengkul saya bergetar hebat. Tubuh saya ambruk.
Tak lama kemudian, saya siuman. Saya ter ingat kupat tahu di piring di meja tamu. Itu belum saya habiskan. (budi)

Parakansaat, Bandung
Budi Sabarudin, lahir di Desa Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Ia penyintas stroke. Bukunya yang telah terbit Si Lidah Emas Dirampok Begal (2020). Budi menetap di Bandung.

No More Posts Available.

No more pages to load.