‘The Theatre’ Karya Agus R Sarjono Akan Pentas di Banten Dua Hari

by -119 views

SERANG, (BN) – Pecinta seni pertunjukan teater di Banten, akan dihibur pertunjukkan teater yang dimainkan aktor-aktor hebat dari Teater Forum Bandung (TFB) selama dua hari mulai Jum’at, 23 Agustus hingga Sabtu, 24 Agustus 2019 mendatang.

Menurut rencana, pertunjukan Teater Forum dengan lakon The Theatre karya Agus R Sarjono akan digelar di Aula SMAN 2 Serang yang berlokasi di Jalan Raya Pandeglang, KM 5 Karundang, Kecamatan Cipocok Jaya, Kota Serang, Banten.

Disutradarai oleh Tatang Abdullah, lakon The Theatre diperankan oleh aktor teater yang sudah punya jam terbang cukup tinggi.

Mereka bahkan pernah main teater di beberapa negara seperti Eropa dan Amerika.

Nama-nama yang tak asing di dunia teater yang ambil bagian dalam lakon The Theatre adalah Hendra Permana, Ahmad S Djamil, Anzar Mustikowati, Apriyanto, Rusli Keleeng, dan Mustika Iman.

“Pertunjukkan selama dua hari. Hari Jumat dua kali pertunjukkan yakni Pukul 13.30 WIB dan 15.45 WIB. Sementara hari Sabtu digelar tiga kali pertunjukkan, pukul 10.00 WIB, 13.00 WIB, dan pukul 15.45 WIB,” kata Taufik Pria Pamungkas atau yang akrab disapa Kang Opick, panitia lokal di Serang, Rabu (21/8/2019).

Untuk diketahui, Teater Forum adalah sebuah kelompok kecil pegiat teater yang lahir dari kalangan akademisi.

Oleh sebab itu, gairah utamanya adalah mencari, menggali, dan bertanya-tanya.

Teater tradisi dari berbagai daerah di Indonesia menjadi sumber penggalian utama yang kadang dilengkapi, dikawinkan, atau dipertengkarkan dengan teater Barat.

Maka, Teater Forum membuka seluas-luasnya kemungkinan berdialog, berkolaborasi, dan bersekutu dengan berbagai kelompok seni, khususnya teater, dari berbagai daerah maupun mancanegara dalam sebuah forum kreativitas.

The Theatre adalah pertanyaan pertama yang dibawakan kepada publik.

Lakon karya penyair Agus R Sarjono itu mengajak kita untuk ikut bertanya-tanya: di zaman sekarang ini, teater semacam apakah yang cocok untuk disuguhkan kepada masyarakat.

Teater modern kah, tau mungkin Teater tradisi.

Bentuknya komedi atau tragedi.

Dengan tema-tema seperti kritik sosial, renungan filosofis, atau cinta asmara.

Penonton akan disuguhi sebuah teater tentang teater, yang memungkinkan dapat membuat orang yang menyaksikan pertunjukkannya menangis, tertawa, dan bahkan membuat sebagian penonton geleng-geleng kepala.

Namun bagi insan teater bisa saja berbeda memandangnya.

Bisa saja dengan segera mereka melihat berbagai kelemahan dalam teknis pertunjukkan dan tergoda untuk memperbaiki di bagian ini dan itu, atau justru ingin sama sekali berbeda sesuai tafsir dan seleranya.

Namun, apapun tanggapan kita, setelah melihat lakon ini, pandangan kita tentang teater tidak akan bakal pernah sama lagi.

Karena si penulis lakon sudah menjungkirbalikkannya sedemikian rupa.

Lalu siapakah Tatang Abdullah? Tatang adalah seorang aktor teater.

Ia diketahui mulai aktif berteater sejak tahun 1986 hingga saat ini.

Dia bermain dalam 30 pertunjukkan teater antara lain dengan kelompok Sanggar Kita Bandung, Teater Payung Hitam, Studio Teater STSI Bandung, dan STB, juga sudah tampil di berbagai Kota besar di Indonesia hingga Asia seperti Bandung, Yogyakarta, dan Jepang.

Beberapa garapannya sebagai sutradara dipentaskan di Bandung dan Jogyakarta, antara lain: Nyanyian Angsa, Anton Chekov (1990); Dendang Tahun Baru, Rolf Laukner (1991); Mencari Keadilan, Bertolt Brecht (1991); Mak Comblang, Nicolai Gogol; Barabah, Mo.

Sementara sang pengarang, Agus R Sarjono adalah seorang penulis.

Ia kerap menulis puisi, cerpen, esai, dan lakon teater.

Buku terbarunya adalah Gestatten, mein Name ist Trübsinn (Berlin, 2015) dan The Theatre (lakon bilingual Indonesia-Inggris dan Inggris-Jerman).

Dengan Berthold Damshäuser ia menerjemahkan dan menjadi editor Seri Puisi Jerman dan menerbitkan antologi puisi Rainer Maria Rilke, Bertolt Brecht, Paul Celan, Johann Wolfgang von Goethe, Hans Magnus Enzensberger, Friedrich Nietzsche, Georg Trakl, dan Hermann Hesse.

Ia pernah menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) periode 2002– 2006; sastrawan tamu International Institute for Asian Studies (IIAS), Leiden (2001); Böll-Haus, Langenbroich, Jerman (2002—2003); dan Künstlerhaus Schloss Wiepersdorf, Brandenburg (2015).

Ia mendapat Hadiah Sastra MASTERA dari Malaysia untuk buku puisinya Lumbung Perjumpaan (2012); dan “Sunthorn Phu Award” dari Thailand untuk life achievements-nya di bidang sastra (2013).

Ia juga merupakan seorang Pemimpin Redaksi Jurnal Kritik dan Pemimpin Umum Jurnal Sajak.

Sehari-hari Agus berperan sebagai dosen di Jurusan Teater ISBI Bandung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.