Satukan Visi Bangun Desa, FTBM, RPB dan SWK Kolaborasi

by -87 views

CILEGON, (BN) – Untuk keenam kalinya, Forum TBM Kota Cilegon menyelenggarakan kegiatan Riung Literasi. Di gelaran keenam ini, FTBM bersinergi dengan Rumah Peradaban Banten dan Sanggar Wuni Kreasi mengangkat tema ‘Gerakan Membangun Indonesia Dari Desa’.

Kegiatan dilaksanakan di Saung RPB, Lingkungan Kubang Welut, Kelurahan Samang Raya, Kecamatan Citangkil, Kota Cilegon.

Dalam sambutannya, Ketua FTBM Kota Cilegon, Ismet El Siruni menyampaikan, kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari salah satu program Forum TBM Kota Cilegon dengan menampilkan tokoh literasi yang menginspirasi dan memotivasi.

Road Show riung literasi, lanjutnya, dilaksanakan sebagai upaya untuk menjadikan Kota Cilegon menjadi Kota Literasi.

“Kita agendakan secara rutin. Diharapkan bisa menyatukan visi dalam rangka kolaborasi antar pegiat literasi di Cilegon,” ujarnya.

Diskusi ini di hadiri oleh puluhan pegiat literasi Cilegon dan organisasi kepemudaan setempat.

Acara di awali dengan musikalisasi puisi berjudul ‘Kita Semua Bersaudara’, oleh Hilman Sutedja yang merupakan Relawan Rumah Dunia dan salah satu pengurus Forum TBM Provinsi Banten.

Di lanjutkan penyajian musik balada
oleh Kang Ade, sebagai pelaku seni di Kota Cilegon.

Adapun Narasumber yang tampil adalah Pendiri Rumah Peradaban Banten, Huluful Fahmi dan Nur Cholis Owner Sanggar Wuni Kreasi.

Pemateri Pertama, Huluful Fahmi memaparkan tentang konsep ‘gerakan membangun desa’ adalah sebuah konsep pembangunan yang diawali dari pemberdayaan dari desa.

“Dalam konteks literasi, gerakan membangun desa harus diawali oleh para pegiatnya. Jika dia pegiat TBM berarti dia gandrung membaca dan menulis. Selain itu, para pegiatnya pun berdaya. Artinya dengan kemampuannya yang dimiliki, dia bisa berdaya terutama secara ekonomi,” ujarnya.

Dalam konteks di Cilegon, menurut Fahmi, pegiat literasi seharusnya bisa bersinergi dengan lingkup industri yang saat ini menghiasi kota baja tersebut.

“Untuk menempuhnya, kita lakukan saja sebisa kita. Bergerak dulu, itu yang terpenting. Misalnya di RPB, kami menggratiskan kursus Bahasa Inggris kepada 500 anak, sebagai bentuk pendidikan berbahasa. Dengan sendirinya, pelaku industri kemungkinan besar akan mendukung gerakan kita,” kata Fahmi, yang merupakan penulis buku berjudul ‘Dari Desa untuk Indonesia, Potret Kecil Gerakan Membangun Desa’.

Sementara itu, pemateri kedua, Nur Cholis mengungkapkan, untuk membangun desa, perlu adanya pemberdayaan dengan terobosan seperti membangun komunitas literasi dan memberikan pembelajaran yang menyenangkan.

“Kalau di Sanggar, kami juga mencoba berkreasi dengan membuat alat kerajinan. Berkesenian dengan membuat alat musik dari bekas sampah produksi, dan melakukan kapasitas anggota dengan melakukan studi banding,” ungkapnya.

Cholis menambahkan, selain upaya-upaya yang sudah dilakukan, ada hal penting yang harus dilakukan oleh para pegiat literasi.

“Kolaborasi adalah salah satu yang terpenting. Dengan kolaborasi kita bisa bersama-bersama memajukan literasi di Cilegon,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.