Program BPNT di Kabupaten Tangerang Diduga Diselewengkan

by -68 views

TIGARAKSA, (BN) – Program Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), di Kabupaten Tangerang, diduga disalahgunakan oknum pendamping. Sudah, diadukan ke Dinas Sosial, namun belum ada tanggapan.

Pendamping Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) Kecamatan Legok Anhari mengungkapkan, dirinya menemukan langung kecurangan yang dilakukan para oknum pendamping PKH tersebut. Dirinya sudah berulang kali melaporkan ke Dinas Sosial selaku tim pengawas tingkat kabupaten, namun tidak ditanggapi serius.

Temuan-temuan yang terjadi di lapangan menurut Anhari, para pendamping PKH yang seharusnya melakukan pendampingan pada program bantuan tunai, malah mengambil alih program BPNT yang seharusnya dilakukan oleh pendamping TKSK. Ironisnya lagi, para pendamping disinyalir memaksa para penerima manfaat, untuk menyerahkan kartu kepada para pendamping yang bukan kewenangannya.

“Dengan memegang kartu itu, para pendamping mengambil keuntungan pribadi. Selain itu, para penerima manfaat juga dipaksa menerima beras dan telur yang mereka kirim. Padahal sesuai aturan para penerima BNPT ini harus mengambilnya di BRI Link yang ditunjuk di masing-masing desa dan kelurahan,” terangnya.

Dengan dikirim langusung oleh para oknum ini menurut Anhari, kini banyak ditemukan beras yang tidak sesuai kulitasnya bahkan ada yang dikurangi jatahnya. Seharusnya masyrakat penerima BPNT mendapatkan beras sebanyak 7 kilo dan telur 1 kilo. Pada kenyataanya ada yang hanya mendapatkan 5 kilo beras dan 1 kilo telur.

“Dengan berkurang 2 kilo saja per satu penerima manfaat, jika di satu kecamatan ada 3000-4000 penerima manfaat ini sudah nilai yang cukup besar. Dengan harga standar beras premium Rp11.000 maka mereka sudah bisa mengambil keuntungan pribadi mencapai Rp33-44 juta perkecamatan. Padahal itu jatah untuk keluarga tidak mampu, tapi masih juga dikorupsi,” paparnya.

Permasalahan ini pernah dilaporkan ke Dinas Sosial, tapi tidak ditanggapi serius.

Informasi yang dihimpun, jumlah penerima BPNT se Kabupaten Tangerang mencapai 127.343 keluarga. Bila satu keluarga dipotong 2 kilogram beras, berati terjadi kebocoran sebanyak 254.686 kilogram. Dengan harga beras premium yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp11.000 /kilogram, setiap bulan akan terjadi kebocoran anggaran sebesar Rp2.801.546.000.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.