Pasar Mancak Diduga di Atas Tanah Wakaf, Kades: Tidak Tahu

by -32 views

SERANG, (BN) – Sejak selesai dibangun pada 2016 yang lalu, kondisi Pasar Kawasan Pedesaan di Desa Labuan, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang (Pasar Mancak), terlihat tidak kunjung digunakan.

Padahal, Pasar yang didirikan di atas tanah seluas sekitar satu hektare bekas lapangan olahraga tersebut, rencananya dibangun untuk menjual produk oleh-oleh khas daerah. Anggarannya menggunakan APBN melalui Kementerian Desa Republik Indonesia (Kemendes RI).

Menurut M Roby selaku pegiat sosial Bela Rakyat, tidak digunakannya Pasar tersebut dikarenakan lokasinya tidak strategis, dan diduga ada persoalan yang masih menghambat agar bisa di operasikan.

“Informasi yang saya dapatkan dari masyarakat Mancak, proyek tersebut memang terkesan dipaksakan. Melihat lokasinya juga tidak strategis, karena harus masuk gang, yang di depannya juga ada bangunan Puskesmas. Selain itu diduga tidak ada kajian Amdalnya, karena di sekitaran Pasar itu ada rumah-rumah penduduk. Itu pasti menimbulkan masalah, karena yang namanya Pasar pasti ada limbahnya,” kata M Roby, kepada wartawan, Minggu (25/1/20) malam.

Menurutnya, meski anggaran pembangunan pasar tersebut bersumber dari Kemendes, Pemerintah Daerah dalam hal ini Pemkab Serang selaku penyedia lahan, harus bertanggungjawab.

“Pemkab seharusnya tidak membiarkan begitu saja, supaya angggaran yang telah digelontorkan oleh pemerintah tidak mubadzir alias sia-sia. Kalau melihat seperti ini, masyarakat boleh dong berprasangka, bahwa proyek ini sepertinya hanya untuk mencairkan anggaran saja. Karena kalau memang serius, sebelum pembangunan Pasar ini seharusnya dilakukan analisis ekonomi dan kajian konsultan yang matang
Dan itu yang melakukan Pemkab Serang, karena Kemendes memberikan anggaran atas dasar pengajuan Pemkab,” jelasnya.

Selain pasar Mancak, tambah Roby, masih ada pasar lain di Kabupaten Serang yang tidak digunakan, yaitu Pasar Emping di Kecamatan Gunungsari yang dibangun pada tahun 2015 lalu.

Menurutnya, pasar tersebut tidak digunakan karena terkendala transportasi.

“Ini aneh, satu sisi masyarakat masih banyak kebutuhan, masih banyak jalan rusak, rumah reyot, tetapi anggaran dihambur-hamburkan tidak jelas,” tegasnya.

Sementara itu, Iwan Kepala Desa (Kades) Labuan, Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang, membenarkan, bahwa Pasar tersebut tidak pernah digunakan.

Namun, dirinya mengaku tidak tahu menahu mengenai persoalan apa yang menjadi penghambat dalam pengoperasian Pasar tersebut.

“Gak ada yang mau, tapi saya juga gak tahu alasannya, karena saya baru jadi Kades,” singkatnya.

Berdasarkan pantauan di lokasi, di Pasar tersebut telah berdiri sebanyak 20 kios terbuka dan 8 toko bertirai rolling dalam keadaan kotor dan berdebu.

Informasi yang dihimpun, pada 31 Oktober 2016 Pasar Mancak rencananya akan diresmikan oleh Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa.

Namun tanpa alasan yang jelas, para Muspika yang sudah hadir menunggu kedatangan Pandji mendapat kabar bahwa pasar tak jadi di resmikan.

Selain itu, pembangunan Pasar yang menghabiskan anggaran sekira Rp 4 Miliar tersebut, ternyata diduga dibangun di atas tanah wakaf yang di hibahkan oleh Almarhum Ustadz H. M. Ali, bersama ahli warisnya Ustadz Baharudin dan Ustadz Ujer Ali, untuk masyarakat Desa Labuan.

Berdasarkan penuturan salah satu kerabat ahli waris yang enggan disebut namanya, sejatinya tanah seluas 7200 meter persegi tersebut diwakafkan untuk pendidikan.

“Anak perempuan Almarhum (Ustadz H. M. Ali nikah sama paman saya. Ustadz Ujer itu anak bungsunya (Almarhum). Tanah tersebut diwakafkan untuk pendidikan,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *